Connect with us

WHAT'S ON

Batik Bantengan Merambah Kancah Internasional

Anak-anak yang membatik semakin semangat setelah ada pameran, karena jerih payahnya membuahkan hasil.

Published

on

Aroma lilin batik menyeruak memenuhi ruangan berukuran 9 x 7 meter. Lembaran kain sudah siap di atas meja dan gawangan. Terlihat anak-anak memasuki tempat yang biasa disebut Sanggar Batik Andhaka sambil berceloteh dan tertawa. Badan gesit yang tadinya bergerak, kemudian duduk tenang. Tangan-tangan kecil mereka kemudian memegang canting, meniupnya lalu menempelkannya ke kain dengan perlahan. Siang itu, mereka mulai membatik.

Adalah Anjani Sekar Arum, sosok wanita di balik sanggar Andhaka. Di tengah maraknya gawai dan internet, dia berhasil mengajak anak-anak di sekitar rumahnya di Kota Batu, Jawa Timur, untuk belajar membatik secara tradisional. Kebanyakan dari mereka bergantian datang secara sukarela untuk belajar membatik seusai jam belajar di sekolah.

Menurutnya, banyak keistimewaan yang terjadi selama Ia mengembangkan sanggar batik yang mengangkat kebudayaan bantengan sebagai ciri khas motif batiknya ini. Ada saja tawaran pameran di dalam maupun luar negeri. “Tawaran untuk pameran datang tiba-tiba. Seperti pada tahun 2014, kami pernah diminta oleh Walikota Batu untuk pameran di Praha, Ceko,” ungkap Anjani.

Anak-anak yang membatik semakin semangat setelah ada pameran, karena jerih payahnya membuahkan hasil. Hasil dari penjualan kain dipakai sebagian untuk membeli bahan-bahan dan peralatan membatik. Selebihnya langsung diberikan kepada si anak dalam bentuk tabungan. “Kami tidak memberi target membatik harus sekian, lho. Anak-anak dengan semangat menyelesaikan batiknya sampai selesai sesuai kemampuan dan kemauannya sendiri. Tidak ada paksaan di sini,” ujarnya. Siapa sangka hasil karya anak-anak ini sudah pernah dipamerkan dan dinikmati warga Taiwan dan India pada tahun lalu.

Pembeli Dari Taiwan
Tak dikira, orang dari Taiwan datang ke Sanggar Batik Andhaka berbekal info dari internet. “Orang Taiwan ini memang datang khusus ke Jawa Timur mencari budaya dan UMKM yang unik. Eh ternyata ke sini,” ungkap Anjani menceritakan bagaimana awalnya batik karya Andhaka bisa menembus pasar Taiwan. Kemudian untuk pameran di India, berawal dari ayahnya Anjani yang berprofesi sebagai seniman diundang untuk mengisi acara kebudayaan yang digelar oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Kesempatan tersebut dimanfaatkan Anjani untuk turut mempromosikan hasil karya Sanggar Batik Andhaka.

Hal menarik berikutnya ialah fakta bahwa usaha yang dijalankan Anjani dimulai dengan modal nol rupiah. Karena kain-kain yang dijual pertama kali merupakan hasil karyanya ketika masih kuliah di Universitas Negeri Malang jurusan Seni dan Desain. Termasuk ketika mengikuti pameran-pameran yang tidak mengeluarkan biaya merupakan berkah bagi Anjani.

Muncul tantangan tersendiri bagi Anjani saat batiknya dibeli orang. Ada anak didiknya yang senang karena batiknya laku terjual, tapi ada juga yang sedih karena merasa batiknya kurang bagus dan belum laku terjual. Jika sudah begitu, Anjani membangkitkan semangat anak-anak itu kembali dan mengajak mereka bermain sejenak untuk memperbaiki suasana hati mereka.

Tutor Batik
Rata-rata setiap bulan, tiap anak dapat membuat dua sampai empat lembar kain batik dengan teknik tulis, sehingga total kain yang diproduksi mencapai 60 lembar per bulan. Jumlah anak-anak yang mendapat didikan Sanggar Batik Andhaka bertumbuh pesat. Tahun 2014 dimulai dari beberapa tutor batik yang diajarkan bagimana cara membatik dari awal sampai akhir. Kini telah hampir 40 sekolah di Batu yang memiliki tutor batik dan menyentuh sekitar 600 orang siswa. Sistem tutor batik dianggap lebih efektif oleh Anjani. Di mana siswa mengajari siswa lain, sehingga fungsi guru hanya sebagai pendamping.

Hal menarik lainnya Anjani rasakan ketika menerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards dari PT Astra International Tbk pada Oktober 2017 yang sampai sekarang dirinya tidak mengetahui siapa yang mendaftarkan. Dari penghargaan itu Anjani menerima Rp 60 juta sebagai dana pengembangan ditambah Rp 15 juta sebagai penerima favorit. Anjani memanfaatkan hadiah tersebut lagi-lagi untuk membeli bahan-bahan dan peralatan membatik. Kemudian selebihnya Ia pakai untuk membeli tanah.

“Aku bercita-cita membangun semacam galeri batik di mana pengunjung bisa belajar membatik, belanja batik dan pernak-pernik khas Batu, tapi konsepnya tetap pedesaan. Karena di Batu ini masih sedikit sekali wisata edukasi yang kental kebudayaan khas Batu,” tutur Anjani mengutarakan mimpinya yang belum terwujud. Tanah yang hendak Ia beli sedang mengalami permasalahan pada aktenya. “Kalau tekadnya kuat dan tujuannya jelas, pasti ada jalan keluar,” tambahnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + 5 =

Trending

Copyright Juliete Magazine 2018. All Right Reserved