Hari dan Tanggal : Rabu, 17 Januari 2018
Mengatasi Anak Sedang Puber Dengan Komunikasi Yang Lebih Intens
11 Februari 2014 | dilihat: 1778 kali | komentar: 0

Tingkah laku anak-anak yang mengalami puber atau biasa dikenal dengan akhir balik, biasanya akan timbul pada anak yang menginjak usia 12-14 tahun.

Hal ini bisa dilihat dari beberapa ciri fisik atau suara, selain ciri tersebut orang tua biasanya bingung dengan perubahan anak yang terlalu temperament. Lalu bagaimana sebaiknya orang tua berkomunikasi dengan anak, apakah harus membatasi anak untuk bersosialisai? Tips bagi orang tua, untuk menghadapi anak yang sedang puber. 

Puber atau akhir balik, pasti setiap manusia pernah merasakan hal ini. Baik wanita atau pria akan melawati fase ini saat dewasa, namun ada yang membedakan antara wanita dan pria saat puber. Contohnya, adalah perubahan pada fisik atau biologis. Wanita lebih mengalami perubahan pada bentuk tubuh mereka, secara reproduksinya wanita akan mengalami haid dan bagi pria, umumnya awal perubahan yang menonjol pada suara mereka yang menjadi besar, selain itu pria juga akan mengalami tanda kematangan reproduksi atau biasa disebut mimpi basah.

Namun diantara perubahan diatas yang lebih menjadi kekhawatiran para orang tua adalah perubahan tingkah laku anak mereka.Fase perubahan dan pencarian jati diri sang anak kerap kali menimbulkan konflik antara si anak dan orang tua.

Konflik ini sering terjadi karena perubahan prilaku (Sikis) si anak yang sudah lebih berpikir dewasa dalam berbagai hal, diantaranya dalam menggunakan busana, tertarik pada lawan jenis, dan apa yang menjadi keinginan mereka harus mereka dapatkan. Hal-hal tersebut yang membuat konflik antara orang tua dan juga anak.



Anggap Anak Sebagai Teman.
Hal yang mendasar menjauhkan agar konflik tidak terjadi adalah menggunakan beberapa trik dalam mengatasi anak. Menurut Dilfa Juniar, M.Psi, psikolog yang berpraktek di Klinik Tumbuh Kembang RS. Thamrin, Salemba. “Salah satu trik yang perlu diasah oleh orang tua adalah cara komunikasi yang efektif orang tua terhadap anak, misalnya Orang tua sebaiknya mencoba menerima dan memahami perasaan si anak ketika mereka menghadapi suatu situasi tertentu. Pahami apakah ia merasa senang, sedih, marah, kecewa, dsb. Setiap kali si anak menghadapi masalah, beri mereka kesempatan untuk memberi penjelasan, bantu si anak untuk memecahkan masalah tersebut tanpa terkesan menggurui dan memaksa.”

Ditambahkan Dilfa Juniar, M.Psi. yang tidak kalah penting adalah pola bicara kita terhadap anak. “Ketika orang tua berbicara kepada si anak berikan kesan kita sebagai teman bukan orang tua mereka, karena dengan begitu si anak akan merasa nyaman dan akan menceritakan semua keluh kesah mereka.”

Membuka perbincangan dngan anak adalah hal yang sulit dilakukan orang tua kebanyakan, ketika membuka pembicaraan dengan anak biasanya orang tua hanya member pertanyaan tentang pelajaran dan prestasi si anak.

“Sayangnya banyak orang tua hanya berbicara masalah pendidikan disekolah dengan si anak, tanpa disadari hal itu akan membuat anak bosan, sesekali cobalah berbicara dengan anak tentang hal lain diluar pendidikan, karena dengan hal itu si anak akan merasa senang dan juga tidak bosan akan pembicaraan yang dilakukan antara orang tua dan anak,” jelas Dilfa pada Juliete.

Tidak Membatasi Anak.
Perubahan sikap pada anak biasanya langsung direspon oleh orang tua dengan sikap yang suka melarang si anak untuk melakukan apapun dengan aturan-aturan yang kurang wajar. Hal tersebut memang wajar karena orang tua beralasan agar si anak takut dan si anak tidak terjerumus dengan hal yang negatif. “Ketika orang tua melarang sebetulnya sangat wajar, karena anak yang sedang puber ingin mengetahui apaupun yang mereka belum pernah mereka ketahui, namun dengan pembatasan tersebut membuat si anak lebih penasaran, kenapa orang tua mereka melarangnya,” beber Dilfa.

Memberikan pembatasan kepada anak memang perlu, namun orang tua juga harus melihat dan cukup memberikan penjelasan kepada si anak akan sebab dan akibatnya. “Ajak anak untuk berdiskusikan tentang keputusan yang akan ia ambil dan bantu si anak untuk mengetahui juga menyadari konsekuensi yang mungkin akan muncul mengiringi setiap keputusan yang ia ambil. Setelah anak mengetahui setiap konsekuensi dari keputusannya, beri kesempatan untuk memilih sendiri langkah yang menurutnya merupakan langkah terbaik. Jika dalam menjalankan keputusannya anak mengalami masalah, bantu ia untuk mendiskusikan langkah yang dapat ia ambil untuk mengatasi masalah tersebut.
Dengan cara komunikasi seperti ini, anak akan mengembangkan kemampuan untuk dapat mengambil keputusan yang bertanggung jawab secara mandiri.”


Tips Bagi Orang Tua, Menghadapi Anak puber
Banyak orang tua yang kewalahan mengahadapi sikap anak yang sedang puber dan juga tidak tau bagaimana cara yang baik untuk menghadapinya, berikut beberapa tips mengatasi anak dari para ahli :
1. P osisikan diri sebagai teman yang setara dengan anak. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar anak merasa nyaman dengan orang tua sehingga ia tidak sungkan bercerita maupun berdiskusi tentang berbagai hal dengan orang tuanya
2. Orang tua sebaiknya lebih bersikap terbuka terhadap berbagai hal baru yang ingin dicoba oleh anak. Jangan menampilkan respon berlebihan apabila anak ingin bereksperimen dengan hal baru. Misalnya,mencoba banyak kegiatan, meniru tokohyang sedang ia idolakan, dll. namun apabila yang dilakukan anak membahayakan atau bertentangan dengan norma masyarakat, sampaikan dengan cara berdiskusi dengan anak. 
3. Hargai pendapat anak. Jadilah pendengar yang baik serta berikan masukan yang mereka butuhkan dengan cara memberikan pertimbangan positif dan negatif mengenai suatu hal. Biarkan anak yang pada akhirnya mengambil keputusan atas setiap tindakannya.
4. Bangun kepercayaan dan kenyamanan anak untuk membicarakan masalah apapun. Seringkali anak hanya ingin didengarkan untuk dapat meredakan luapan emosinya. Jika orangtua terburu-buru untuk berkomentar apalagi mengkritik, anak akan enggan untuk bercerita kembali karena merasa dihakimi.
5. Bantu anak untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dengan mempertimbangkan berbagai konsekuensi yang mungkin muncul. Lalu beri anak kepercayaan dan kebebasan yang bertanggung jawab untuk mengambil keputusan dan menentukan pilihan sehari-hari. Misalnya dalam membuat jadwal hariannya sendiri, menentukan kegiatan yang akan ia ikuti, dll.
6. Kenali lingkungan anak. Mulai dari siapa teman-temannya, sampai pada hal-hal apa yang pada saat ini menjadi tren bagi anak, seperti twitter, facebook, dll

 



Tuliskan Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
*Max : 255 Karakter
 
*Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
 
 
 
Follow us on






Download Majalah JulietMagz
Edisi November-Desember 2016

Download gratis majalah JulieteMagz Edisi November-Desember 2016


Copyright © 2013, www.julietemagz.com