Hari dan Tanggal : Rabu, 17 Januari 2018
Alergi Susu Sapi, Ganggu Tumbuh Kembang Anak?
26 Juli 2017 | dilihat: 81 kali | komentar: 0

JulieteMagz.com World Allergy Organization (WAO) menyatakan bahwa anak lebih berisiko mengalami alergi dibanding orang yang lebih tua, dengan angka prevalensi pada anak sebesar 4-6% sementara pada orang dewasa hanya 1-3%. Anak lebih berisiko mengalami alergi jika memiliki riwayat penyakit atopik dalam keluarga seperti dermatitis atopik, asma, dan atau rhinitis alergi dari setidaknya salah satu orangtua atau saudara kandung. 

Selain faktor genetik, beberapa anak juga lebih berisiko mengalami alergi jika dilahirkan melalui operasi caesar, penggunaan antibiotik saat persalinan, hingga terpapar asap rokok. Lebih spesifik lagi, data dari Allergy & Asthma Foundation of America menyatakan bahwa alergi protein susu sapi merupakan salah satu alergi makanan yang paling banyak terjadi pada anak-anak. 

Studi dibeberapa negara di seluruh dunia menunjukkan prevalensi alergi protein susu sapi pada anak-anak di tahun pertama kehidupan sekitar 2% sampai 7,5%. Angka ini tentunya diikuti resiko yang mungkin mengancam si Kecil di masa depan. Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(K), M.Kes, Konsultan Alergi Imunologi Anak menjelaskan.

“Gejala akibat alergi susu sapi ini dapat menyerang sistem gastrointestinal (50-60%), kulit (50-60%), dan juga sistem pernapasan (20-30%). Reaksi alergi dapat timbul berupa eksim pada kulit, mengi pada saluran napas, kolik, diare berdarah, hingga konstipasi. Jika tidak segera ditangani dan dibiarkan, keadaan ini dapat menganggu optimalisasi tumbuh kembang si Kecil dan memberi dampak jangka panjang terhadap kesehatan di usia dewasa,” terangnya.

Prof. Budi menambahkan, ada berbagai macam gangguan tumbuh kembang yang mungkin terjadi pada si Kecil jika alerginya tidak tertangani dengan baik. Anak bisa tumbuh menjadi picky eaters sehingga mempengaruhi berat badan ideal dan juga pertumbuhan fisiknya. Gangguan hormon akibat alergi juga berisiko memunculkan kegemukan atau obesitas, yang jika tidak dikendalikan akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan diabetes di masa depan.

Dilanjutkan Prof. Budi. "Alergi protein susu sapi ini relatif lebih sulit ditangani karena alergen tidak selalu berbentuk susu, melainkan berbagai makanan olahan yang mengandung susu sapi. Oleh sebab itu kondisi ini memerlukan ketanggapan orang tua untuk mencermati kandungan dalam berbagai makanan dan menangani reaksi alergi pada si Kecil dengan cepat," tutupnya. AS



Tuliskan Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
*Max : 255 Karakter
 
*Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
 
 
 
Follow us on






Download Majalah JulietMagz
Edisi November-Desember 2016

Download gratis majalah JulieteMagz Edisi November-Desember 2016


Copyright © 2013, www.julietemagz.com