Hari dan Tanggal : Rabu, 17 Januari 2018
Silent Tsunami, Waspada Resistensi Antibiotik
15 November 2017 | dilihat: 37 kali | komentar: 0

JulieteMagz.com Bagai pisau bermata dua, selain melindungi antibiotik juga mengancam kesehatan manusia. Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai ancaman resistensi antimikroba, Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar “Pekan Kesadaran Antibiotik”, yang tahun ini diselenggarakan pada tanggal 13 – 19 November 2017.

“Kegiatan ini merupakan kampanye global peduli penggunaan antibiotik sebagai salah satu wadah untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai ancaman resistensi antimikroba”, kata I Ketut Diarmita selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, saat dijumpai di Kantor Kementerian Pertanian.

Dikatakannya bahwa antimikroba merupakan salah satu temuan yang sangat penting bagi dunia, mengingat manfaatnya bagi kehidupan, terutama untuk melindungi kesehatan manusia, hewan, dan kesejahteraan hewan. Akan tetapi bagai “pisau bermata dua”, jika dalam penggunaannya antimikroba ini dilakukan secara tidak bijak dan tidak rasional, maka menjadi pemicu terhadap kemunculan bakteri yang tahan atau kebal terhadap efektivitas pengobatan antimikroba.

Kini Resistensi Antimikroba (AMR), telah menjadi ancaman tanpa mengenal batas-batas geografis, dan berdampak pada kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. “Untuk itu, harus kita sadari bahwa ini merupakan ancaman serius bagi ketahanan pangan, khususnya bagi pembangunan di sektor peternakan dan kesehatan hewan”, ungkapnya.

Menurutnya, berdasarkan laporan di berbagai negara mencatat adanya peningkatan laju resistensi dalam beberapa dekade terakhir, namun disisi lain penemuan dan pengembangan jenis antibiotik (antimikroba) baru berjalan sangat lambat. “Para ahli di dunia memprediksi bahwa jika masyarakat global tidak melakukan sesuatu dalam mengendalikan laju resistensi ini, maka AMR akan menjadi pembunuh nomor 1 didunia pada tahun 2050, dengan tingkat kematian mencapai 10 juta jiwa per tahun, dan kematian tertinggi terjadi di kawasan ASIA”, nungkap I Ketut Diarmita.

Selain itu, Pemerintah juga telah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan atau growth promoter mulai 1 Januari 2018, yang mengacu pada amanat UU No. 41 tahun 2014 Jo. UU no 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan. Kementan juga telah memulai surveilans AMR di Jawa Barat, Banten dan Jabodetabek, termasuk melakukan pilot survey penggunaan antimikroba di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan pada 360 peternak ayam daging.

Maraknya penggunaan antibiotik sebagai salah satu teknologi dalam dunia peternakan tampaknya perlu disertai dengan pengawasan lapangan bagi pelaku produksi bahan pangan (daging ayam, sapi, ikan dsb). Penggunaan antibiotik berlebihan dapat menimbulkan residu yang alhirnya dikonsumsi oleh konsumen dan pada ujungnya menimbulkan masalah kesehatan.

Puncak kegiatan Peningkatan Kesadaran tahun ini ditandai dengan kegiatan street campaign yang akan berlangsung di Solo pada 19 November 2017. Menurut James Mc Grane, FAO ECTAD Team Leader, saat mikroba menjadi kebal terhadap satu atau beberapa jenis antimikroba, infeksi yang dihasilkan mikroba akan sulit untuk disembuhkan, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Mikroba yang kebal ini dapat menyebar ke lingkungan sekitar, ke rantai makanan dan ke manusia. “Untuk itu, jika tidak diperlukan penggunaan antimikroba pada ternak sebaiknya tidak perlu digunakan,” ujarnya. 

Sementara Sujith Chandy, Ketua ReAct Asia Pasifik, menekankan pentingnya meningkatkan pemahaman berbagai pihak terkait, termasuk konsumen kesehatan, mengenai resistensi antimikroba melalui upaya komunikasi, edukasi dan pelatihan yang efektif.

Mewakili suara konsumen kesehatan, pendiri YOP (Yayasan Orang Tua Peduli), dr. Purnamawati Sujud, Sp.A(K), MMPed menghimbau kepada semua pihak terkait untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dalam mengendalikan penggunaan antibiotik di semua sektor.



Tuliskan Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
*Max : 255 Karakter
 
*Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
 
 
 
Follow us on






Download Majalah JulietMagz
Edisi November-Desember 2016

Download gratis majalah JulieteMagz Edisi November-Desember 2016


Copyright © 2013, www.julietemagz.com